Kala Utara bertemu Selatan, sejarah ringkas pertemuan dua Korea

Berita Terkini – Pada 2000 silam Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung terbang ke Pyongyang untuk bertemu dengan Kim Jong-il, pemimpin Korea Utara. Peristiwa itu adalah pertemuan pertama yang pernah terjadi di antara dua negara yang berperang sejak 1953.

Jarak antara kedua bandara di kedua negara hanya berjarak sekitar 160 kilometer tapi penerbangan membutuhkan waktu lebih dari satu jam, itu karena pesawat harus melintasi sebelah barat Semenanjung Korea untuk menghindari wilayah daratan yang penuh persenjataan militer.

Hari ini, Kim Jong-un, putra dari Kim Jong-il sekaligus pemimpin Korut saat ini akan melintasi rute yang sama. Dia akan disambut Presiden Korea Selatan Moon Jae-in sebelum mereka kemudian akan berunding di wilayah sebelah selatan dari daerah zona larangan militer.

Pertemuan ketiga antara kedua negara ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi perdamaian sejak perang 1950-1953 silam.

Namun menurut Andrei Lankov, pengamat dari Universitas Kookmin di Seoul, pertemuan Kim dengan Moon hari ini belum akan menghasilkan poin penting.

“Pertemuan ini belum akan menghasilkan keputusan penting,” kata dia. Pemerintahan Korea Selatan berada di posisi sulit. Ini bukan posisi untuk membahas hal-hal yang sangat penting. Ini semacam pertemuan awal untuk memuluskan pertemuan antara Presiden Trump dan Kim Jong-un di masa mendatang,” kata Lankov, seperti dilansir laman the New York Times, Kamis (26/4).

Trump dan Kim direncanakan pertama kali bertemu antara Mei atau Juni. Tanggal pasti dan lokasi belum diumumkan.

Pertemuan Korsel dan Korut hampir terjadi pada 1994, tapi kemudian batal lantaran Kim Il-sung, pendiri Korea Utara mangkat.

rakyat korut menyambut pertemuan pada 2000 Getty
rakyat korut menyambut pertemuan pada 2000 Getty

Ketika akhirnya kedua pemimpin bertemu pada Juni 2000, Korut baru saja mengalami bencana kelaparan yang menewaskan lebih dari dua juta warga. Di Selatan, Kim Dae-jung baru terpilih jadi presiden. Dalam pidato pelantikannya pada 1998, Kim menyerukan agar kedua negara mengakhiri pertikaian ala ‘Perang Dingin’.

Pertemuan itu kemudian menghasilkan Kebijakan Sinar Mentari yang memberikan dana bantuan dan investasi buat Korut. Korsel mengirimkan ratusan ribu ton makanan dan pupuk bagi Korut saban tahun.

Selain tiu digagas juga ide pertemuan reuni dari 16 ribu keluarga yang terpisah karena perang. Kim Dae-jung akhirnya diganjar Nobel Perdamaian pada 2000 berkat upaya rekonsiliasinya dengan Korut.

Namun Korut tetap melanjutkan usahanya untuk mengembangkan senjata nuklir. Meski pada 2002 diketahui Korsel masih menyalurkan bantuan. Kebijakan Sinar Mentari dan pertemuan pada 2000 silam menuai kritikan keras setelah diketahui Korsel membayar USD 450 juta kepada Korut sebelum acara pertemuan itu.

Pertemuan kedua terjadi pada 2007 di masa akhir era kepemimpinan lima tahun Roh Moo-hyun, pengganti Kim Dae-jung. Setahun sebelumnya Korut sudah melakukan uji coba pertama nuklirnya.

Pada saat itu Roh mendapat tekanan dari kubu konservatif yang ingin mengakhiri Kebijakan Sinar Mentari dan ingin menekan Korut lebih tegas lewat sanksi dan Perang Dingin. Pada pemilu berikutnya akhirnya pihak konservatif menang dan Kebijakan Sinar Mentari berakhir pada 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *